Musibah tsunami Aceh 26 Desember 2004 telah menelan lebih dari 200.000 korban jiwa di 14 negara. Dari ratusan ribu korban tersebut, di antaranya adalah Dr Roza Sjamsoe’oed MSc serta dua buah hatinya, Maureen dan Tazkia. Kepergian secara mendadak itu bukan hanya membuat ayahanda beliau, Profesor Sjamsoe’oed Sadjad dan keluarganya merasa terpukul. Tapi juga keluarga besar Unsyiah terutama Jurusan Matematika, tempat beliau mengabdi sejak 1994.

 

Dr Roza adalah seorang ahli statistika lulusan Amerika Serikat. Beliau menempuh studi master dan doktoral di kampus Oregon State University, Corvallis, OR sejak tahun 1989 di bawah bimbingan Profesor Fred L Ramsey. Lulus tahun 1994 dengan judul disertasi “The Use of Logistic Regression for Developing Habitat Association Models”, menjadikan beliau sebagai salah satu doktor termuda dengan usia 29 tahun.

Lahir di Bogor dalam keluarga akademisi pada 19 Juni 1965, Dr Roza adalah putri bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya adalah seorang ahli benih Indonesia dan guru besar IPB sejak 1981 yang sangat aktif menulis dan publikasi.

Pada tahun 1997/1998, Dr Roza mendapatkan hibah penelitian pada Program Riset Unggulan Terpadu V Dikti untuk bidang Teknologi Perlindungan Lingkungan. Riset dengan judul “Pengembangan Habitat Association Model dengan Adaptive Cluster Sampling dalam Upaya Melestarikan Orang Utan (Pongo pygmaeus) di Taman Nasional Gunung Leuser” ini bernilai ratusan juta rupiah.

Dr Roza merupakan seorang dosen yang sangat aktif. Dalam kurun waktu 10 tahun pengabdiannya di Unsyiah, beliau telah membimbing 67 mahasiswa S1 Matematika. Angka 67 ini adalah lebih dari seperempat lulusan dalam 10 tahun saat itu.

Nama mantan Sekretaris Jurusan Matematika ini, telah diabadikan sebagai nama sebuah ruang seminar di Fakultas MIPA, yaitu Ruang Seminar Dr Roza Sjamsoe’oed.